Pontianak Heritage bersama Clubpon.id menggelar jelajah kawasan Sungai Kakap pada tanggal 23 Mei 2026 untuk menelusuri sejarah pesisir, budaya masyarakat sungai, serta misteri kelenteng tengah laut yang hingga kini masih menjadi cerita menarik di Kalimantan Barat.
Sungai Kakap sendiri dikenal sebagai kawasan pesisir penting di Kabupaten Kubu Raya. Wilayah ini sejak dahulu menjadi jalur perdagangan, aktivitas nelayan, hingga persinggahan kapal-kapal kecil di kawasan muara. Namun hingga sekarang, belum ada sejarah tertulis yang benar-benar valid mengenai asal-usul nama Sungai Kakap.
Sebagian besar kisah masih berasal dari cerita masyarakat yang diwariskan secara turun-temurun.
Dahulu Bernama Tanjung Kakap
Menurut cerita masyarakat, kawasan ini dahulu dikenal dengan nama Tanjung Kakap dan berada pada jalur pesisir yang terhubung dengan Jeruju. Dari sinilah berbagai versi sejarah Sungai Kakap mulai berkembang.
Tiga Versi Asal Nama Sungai Kakap
1. Berasal dari Ikan Kakap
Versi paling populer menyebut bahwa nama Sungai Kakap berasal dari banyaknya ikan kakap yang dahulu ditemukan di wilayah ini. Para nelayan sering memancing di kawasan sungai dan muara lalu memperoleh ikan kakap dalam jumlah besar.
Karena itulah masyarakat kemudian mengenal wilayah tersebut dengan nama Sungai Kakap.
2. Kisah pada Masa Kesultanan Alqadrie
Versi kedua berkaitan dengan masa Kesultanan Syarif Alqadrie di Pontianak. Menurut cerita masyarakat, dahulu kawasan pesisir ini sering menjadi jalur perompak laut.
Konon, di wilayah tersebut juga pernah terdapat mercusuar sebagai penanda jalur pelayaran. Prajurit penjaga wilayah sering memancing di sungai sekitar kawasan itu dan memperoleh ikan kakap, sehingga nama Sungai Kakap mulai dikenal masyarakat.
3. Berasal dari Sampan Kakap
Versi lainnya menyebut bahwa kata “Kakap” bukan berasal dari ikan, melainkan dari nama perahu tradisional yang disebut Sampan Kakap.
Sampan ini hanya mampu membawa sekitar lima hingga sepuluh orang. Menurut cerita lama, kapal kecil tersebut dahulu sering digunakan oleh perompak laut untuk menyusuri kawasan pesisir dan muara sungai.
Misteri Kelenteng Tengah Laut
Dalam perjalanan jelajah heritage Sungai Kakap, salah satu tempat yang paling menarik perhatian adalah keberadaan kelenteng tengah laut di kawasan pesisir muara.
Kelenteng ini menjadi bagian penting dari budaya Tionghoa pesisir Kalimantan Barat sekaligus penanda bagi nelayan yang pulang melaut.
Menariknya, sejarah kelenteng ini juga memiliki beberapa versi berbeda.
Versi Pertama
Berdasarkan cerita masyarakat dan beberapa sumber lokal, kelenteng tersebut disebut telah ada sejak sekitar tahun 1969. Ada pula kisah yang menyebut pembangunan kelenteng bermula dari seseorang yang mengalami sakit berkepanjangan dan tidak kunjung sembuh.
Setelah memperoleh petunjuk spiritual, akhirnya dibangunlah kelenteng tersebut sebagai bentuk penghormatan kepada dewa laut (Mazu) dan permohonan keselamatan.
Versi Kedua: Kisah Bubuh dan Nelayan
Versi lain berkembang dari kehidupan nelayan pesisir. Konon dahulu seorang warga Tionghoa memasang bubuh atau jermal untuk menangkap ikan di kawasan tersebut.
Saat berada di lokasi, ia disebut mengalami “sarong” atau kerasukan dan memperoleh perintah untuk membangun tempat suci penghormatan kepada dewa laut (Mazu).
Sejak saat itu, kelenteng mulai dibangun dan menjadi penanda penting bagi masyarakat nelayan.
Bahkan bagi nelayan yang pulang melaut, ketika bangunan kelenteng mulai terlihat dari kejauhan, itu menandakan bahwa mereka sudah mendekati kawasan Sungai Kakap. Karena itulah kelenteng ini juga dianggap seperti mercusuar tradisional masyarakat pesisir.
Tiga Muara di Kawasan Kakap
Wilayah pesisir ini juga dikenal memiliki tiga muara utama, yaitu:
- Muara Kubu
- Muara Kakap
- Muara Kapuas
Ketiga jalur perairan tersebut sejak dahulu menjadi akses penting perdagangan dan aktivitas masyarakat pesisir Kalimantan Barat.
Pada masa kolonial Belanda, kawasan Sungai Kapuas juga dikenal sebagai jalur distribusi hasil perkebunan dan perdagangan melalui sungai.
Tanjung Saleh dan Kisah Perompak
Masyarakat setempat juga mengenal kawasan bernama Tanjung Saleh atau Tanjung Salai. Menurut cerita yang berkembang, tempat ini dahulu digunakan untuk menghukum atau “menyalai” para perompak laut yang tertangkap.
Walaupun belum memiliki bukti sejarah tertulis yang kuat, cerita tersebut masih hidup dalam ingatan masyarakat pesisir hingga sekarang.
Antara Sejarah dan Cerita Rakyat
Sungai Kakap menyimpan banyak kisah yang berada di antara sejarah, legenda, dan cerita rakyat. Belum ada arsip resmi yang benar-benar memastikan mana versi yang paling akurat.
Namun dari cerita-cerita lisan inilah identitas budaya pesisir tetap bertahan hingga sekarang. Sungai Kakap bukan hanya tentang sungai dan laut, tetapi juga tentang nelayan, perdagangan, budaya Tionghoa pesisir, hingga jejak perjalanan panjang masyarakat Kalimantan Barat.



