Jelajah Kota Pontianak Ramadhan 2026: Cerita Lama Pendidikan, Budaya, dan Kuliner Tradisional

     



    Bulan Ramadhan tahun 2026 menjadi momen istimewa untuk menghidupkan kembali cerita lama melalui kegiatan Jelajah Kota Jaga Sejarah. Kegiatan ini mengajak peserta berjalan menyusuri kawasan bersejarah sambil mengenal perkembangan pendidikan, perkampungan, serta budaya yang tumbuh sejak masa kolonial hingga sekarang.




    Salah satu titik penting dalam perjalanan sejarah ini adalah kawasan Holland Irhem School yang berdiri pada tahun 1902. Sekolah ini berkembang di tengah perkampungan Belanda, yang terbentuk setelah pihak kesultanan memberikan sebagian lahan kepada pemerintah kolonial Belanda. Pada masa itu, sekolah bergaya Eropa mulai diperkenalkan, meskipun akses pendidikan masih sangat terbatas bagi masyarakat pribumi.




    Perjalanan kemudian mengarah ke kawasan sekitar SDN 14 Pontianak yang memiliki cerita unik. Pada masa awal berdirinya, sekolah ini kurang mendapat perhatian dari pemerintah kolonial. Baru pada awal abad ke-20, perlahan mulai muncul siswa pribumi yang bersekolah, salah satunya dikenal dengan nama Gusti Lelanang.

    Di sekitar sekolah terdapat Jalan Rajawali, yang dahulu merupakan perkampungan Arab. Masyarakat setempat dikenal dengan sebutan Tambi. Dari kawasan inilah lahir kuliner khas seperti roti cane yang kemudian populer dengan nama Roti Tambi, serta Mie Bumbu yang berkembang menjadi Mie Tambi. Kehadiran kuliner tersebut menjadi bukti perpaduan budaya yang terjadi melalui interaksi perdagangan dan permukiman.



    Tidak jauh dari lokasi tersebut, tepatnya di sekitar Jalan Sidas, terdapat rumah kerajaan dari wilayah Kesultanan Landak yang dahulu ditempati oleh Almarhum Gusti Effendi. Rumah ini menjadi salah satu penanda hubungan sejarah antara wilayah Pontianak dan Landak yang telah berlangsung sejak lama.

    Kawasan jalan juga mengalami perubahan nama dari masa ke masa. Jalan Kutilang, misalnya, dahulu dikenal sebagai Jalan Pak Sipan. Selain itu, pada era 1960-an, SDN 14 sempat berfungsi sebagai Sekolah Rakyat (SR), mengikuti sistem pendidikan nasional setelah Indonesia merdeka. Pada masa sebelumnya, sekolah dasar berbahasa Belanda dikenal dengan istilah Hollandsch-Inlandsche School (HIS).




    Kegiatan jelajah sejarah ini tidak hanya berupa kunjungan lokasi, tetapi juga dikemas dalam suasana Ramadhan yang hangat. Setelah sesi jalan-jalan sejarah selesai, kegiatan dilanjutkan dengan sesi diskusi ringan menjelang waktu berbuka puasa. Dalam diskusi tersebut, peserta berbagi cerita, sumber sejarah lokal, serta pengalaman tentang perubahan kawasan dari masa ke masa.

    Melalui kegiatan Jelajah Kota Jaga Sejarah Ramadhan 2026, diharapkan kesadaran untuk menjaga warisan sejarah kota semakin tumbuh. Setiap sudut kawasan lama bukan hanya menyimpan bangunan, tetapi juga cerita tentang pendidikan, budaya, dan keberagaman yang membentuk identitas Pontianak hingga hari ini.

    Posting Komentar

    Lebih baru Lebih lama