Menelusuri Tugu 40 Tahun Sultan Muhammad dan Benteng Sultan Kasim di Pontianak

    Tim JKJS Jelajah Kota Jaga Sejarah menyusuri kawasan bersejarah Pontianak


    Kegiatan JKJS (Jelajah Kota Jaga Sejarah) kali ini menapaki jejak masa lalu di kawasan bersejarah yang menyimpan kisah penting tentang perjalanan Kesultanan Pontianak. Destinasi yang dikunjungi adalah Tugu Sultan Muhammad dan benteng peninggalan Sultan Kasim—dua situs yang menjadi saksi perjalanan panjang sejarah kota ini.

    Tugu 40 Tahun Sultan Muhammad

    Tugu Sultan Muhammad berdiri tak jauh dari Kraton Kadariyah, di tepi Sungai Kapuas. Monumen ini dibangun untuk mengenang 40 tahun masa kepemimpinan Sultan Muhammad, ayah dari Sultan Hamid II. Meski bentuknya sederhana, tugu ini memiliki makna simbolis yang kuat sebagai penghormatan terhadap salah satu pemimpin penting Kesultanan Pontianak.

    Menurut penuturan Dony Iswara (Pak Belalang), hingga kini belum ditemukan bukti kuat mengenai keterlibatan Sultan Muhammad dalam peristiwa Tragedi Mandor. Namun, sejumlah catatan sejarah menyebutkan bahwa beliau termasuk korban dalam tragedi genosida yang dilakukan tentara Jepang di Kalimantan Barat. Perbedaan sumber ini menunjukkan bahwa sejarah Pontianak masih memerlukan kajian mendalam agar semakin terang dan utuh.


    Benteng peninggalan Sultan Kasim bagian dari sistem pertahanan Kesultanan Pontianak


    Benteng Peninggalan Sultan Kasim

    Perjalanan kemudian dilanjutkan menuju lokasi yang diyakini sebagai benteng peninggalan Sultan Kasim. Benteng ini menjadi bagian dari sistem pertahanan kerajaan di masa lalu. Meski terdapat pendapat lain yang menyebut lokasi sebenarnya berada di Batu Layang, kedua titik tersebut tetap menjadi bukti strategi pertahanan dan kedaulatan Kesultanan Pontianak dalam menjaga wilayahnya.

    Jejak Sejarah di Kraton Kadariyah

    Tak jauh dari lokasi tersebut, rombongan melanjutkan kegiatan ke Kraton Kadariyah yang saat itu tengah bersiap menyambut Karnaval HUT Kota Pontianak ke-254. Di area kraton terdapat patung Mary Didi Van Delden, istri Sultan Hamid II. Keberadaan patung ini menjadi simbol hubungan lintas budaya antara Pontianak dan Eropa pada masa itu, mencerminkan keterbukaan Kesultanan Pontianak terhadap dunia luar.

    Beberapa sumber juga menyebut bahwa pada masa pasca-Tragedi Mandor pernah berdiri Monumen Genosida Kejahatan Jepang di Pontianak. Monumen tersebut menjadi pengingat atas penderitaan masyarakat Kalimantan Barat selama pendudukan Jepang. Namun pada tahun 1958, monumen itu hancur, dan sejak saat itu kisah genosida tersebut semakin jarang dibicarakan oleh generasi muda.

    Menjaga Ingatan Sejarah Pontianak

    Kegiatan JKJS bukan sekadar perjalanan wisata sejarah. Lebih dari itu, kegiatan ini menjadi pengingat bahwa Pontianak memiliki warisan panjang yang kaya makna. Setiap tugu, benteng, dan bangunan tua menyimpan kisah perjuangan serta nilai kemanusiaan yang penting untuk terus dijaga dan diwariskan.

    Posting Komentar

    Lebih baru Lebih lama