Pada 7 Februari 2026, JKJS bekerja sama dengan Kopermekha mengadakan Trip Oplet pertama di tahun 2026. Kegiatan ini menjadi ruang belajar bersama untuk menelusuri jejak sejarah Kota Pontianak, khususnya kawasan-kawasan lama yang tumbuh sejak masa kolonial hingga awal perkembangan kota.
Perjalanan ini tidak sekadar wisata, tetapi juga upaya merawat ingatan kolektif tentang ruang, jalan, pasar, dan kampung yang membentuk Pontianak seperti yang kita kenal hari ini.
Jejak Kolonial dan Infrastruktur Awal Kota
Pada masa kolonial, Pontianak menjadi wilayah strategis. Salah satu perusahaan manufaktur asal Inggris, Ruston Proctor & Co, tercatat memproduksi alat-alat pertanian yang digunakan dalam aktivitas perkebunan dan pertanian pada masa itu.
Tahun 1934, pemerintah kolonial Belanda mendirikan Kebun Percontohan, yang berfungsi untuk mendukung produksi pemerintah kolonial sesuai potensi lokal, seperti rambutan, langsat, dan rambai. Untuk mendukung irigasi kebun tersebut, digunakan mesin uap sumur bor (Damptech Machine) sebagai sumber pengambilan air.
Sejarawan P.J. Veth juga mencatat adanya pemberontakan dan penyerangan benteng Belanda oleh penduduk kampung baru di wilayah Siantan, menandai dinamika perlawanan masyarakat lokal terhadap kekuasaan kolonial.
Benteng, Militer, dan Tata Kota
Benteng pertahanan Belanda berada di sekitar Taman Alun Kapuas, berfungsi sebagai pusat tangsi militer dan dikenal sebagai Benteng Mariana. Keberadaan benteng ini berdampak pada kebutuhan penerangan di sekitarnya, sehingga didatangkan pekerja dari Kebumen untuk membuat pelita. Mereka kemudian bermukim di sekitar Jalan Jawa (Uray Bawadi).
Kawasan Tanah Seribu juga memiliki peran penting sebagai area yang terdampak perjanjian antara Hindia Belanda (melalui asisten dari Rembang) dengan Syarif Abdurrahman. Di kawasan ini dibangun sistem pertahanan dengan batas-batas alam dan buatan:
-
Utara: Sungai Kapuas
-
Barat: Gertak 1
-
Timur: Parit Besar
-
Selatan: Jalan Penjara
Jalan-Jalan Lama dan Perubahan Nama
Perjalanan oplet juga menelusuri perubahan nama jalan sebagai penanda perubahan zaman:
-
Jalan Tanjungpura dahulu dikenal sebagai Volstraat, dengan batas di Parit Tokaya.
-
Jalan Imbon dahulu bernama Jalan Garuda, membentang hingga Parit Bangka.
-
Jalan Adi Sucipto dahulu bernama Jalan Angkasa, dengan batas dari Parit Bangka hingga Sungai Durian.
Nama-nama ini menyimpan cerita tentang administrasi kolonial dan transformasi ruang kota setelah kemerdekaan.
Pasar dan Aktivitas Ekonomi Rakyat
Sejak 5 Juli 1779, Pasar Pontianak telah terbagi menjadi tiga bagian utama:
-
Pasar Hulu
-
Pasar Tengah
-
Pasar Hilir
Masing-masing memiliki fungsi ekonomi yang khas:
-
Pasar Kapuas Indah / Serayu: menjual ikan
-
Pasar Tengah: kebutuhan sehari-hari
-
Pasar Hulu: menjual kelontong
Selain itu terdapat Pasar Lintang Siantan sebagai pusat aktivitas ekonomi masyarakat Siantan.
Catatan dari Harian Halilintar tahun 1974 menyebutkan bahwa Pasar Pontianak telah dipenuhi warung nasi, warung kopi, dan aktivitas sosial lainnya. Bahkan sejak 1893, warung kopi sudah menjadi bagian dari kehidupan kota Pontianak.
Titik pertemuan aktivitas masyarakat juga terlihat pada titik triangulasi warkop di kawasan Tanjungpura – Diponegoro – Gajah Mada.
Kampung-Kampung Bersejarah
Trip ini juga menyinggahi kawasan permukiman lama, antara lain:
-
Kampung Melayu (BML), membentang dari Lepas Senghie hingga Jembatan Kapuas
-
Kampung Parit Besar, yang dihuni oleh masyarakat Tambi dan Tionghoa
-
Kampung Kamboja
-
Kampung Kuantan
-
Kampung Bansir
-
Kampung Bangka, yang terbagi menjadi:
-
Area darat: Kampung Bangka
-
Area sungai: Kampung Mendawai
-
Kawasan Komplek Waduk (belakang Hotel Kapuas Dharma) dulunya merupakan komplek kantor Dinas Peternakan.
Tugu Digulis: Memori Perlawanan
Salah satu titik refleksi penting adalah Tugu Digulis, yang didirikan pada 1986 dan diresmikan pada 10 November 1987 oleh Pak Sudjiman. Tugu ini didirikan untuk memperingati 11 orang yang dibuang ke Boven Digul oleh pemerintah Belanda pada tahun 1926, sebagai simbol perlawanan dan penderitaan pejuang bangsa.
Penutup
Trip Oplet JKJS–Kopermekha ini menjadi pengingat bahwa Pontianak bukan hanya kota yang tumbuh di tepi Sungai Kapuas, tetapi juga kota dengan lapisan sejarah yang kaya: pasar, kampung, jalan, benteng, dan ruang hidup yang saling terhubung.
Melalui perjalanan sederhana dengan oplet, sejarah kembali dihadirkan—bukan sebagai masa lalu yang jauh, tetapi sebagai bagian dari identitas kota yang patut dirawat dan diceritakan kembali.
Kalau mau:
.jpg)