Dalam rangka memperingati Hari Transportasi Darat, tim JKJS melakukan perjalanan sore menggunakan oplet, menyusuri berbagai sudut bersejarah Kota Pontianak. Perjalanan ini menjadi napak tilas perubahan kota—dari era kolonial hingga Pontianak masa kini—dengan tujuan utama Sumur Bor, kawasan bersejarah yang menyimpan jejak penting perkembangan kota.
Perjalanan dimulai dari Warkop Wak Baco, Jalan Mahakam, lalu berlanjut menyusuri Jalan Pangsuma yang dahulu dikenal sebagai Shenghie Weh, batas kawasan Kampung Tengah. Rombongan kemudian melewati Jalan Tanjungpura, pusat aktivitas ekonomi tertua di Pontianak.
Kami juga menelusuri ruas jalan dengan nama-nama lama seperti Jalan Imam Bonjol (dulu Kampung Bangke), Jalan Garuda, dan Jalan Adisucipto yang dahulu dikenal sebagai Jalan Sei Durian. Menurut cerita warga, jalur menuju Kubu Raya pada masa lalu ditempuh melalui Sungai Duri, bukan Jalan Ahmad Yani seperti sekarang.
Perjalanan berlanjut ke Parit Bansir, yang dikenal karena keberadaan Masjid Baitul Makmur, salah satu masjid tua di Pontianak. Rombongan juga memasuki kawasan Universitas Tanjungpura, yang pada 1960-an bernama Universitas Daya Nasional.
Salah satu titik penting adalah Tugu Digeulis, monumen yang mengenang 11 tokoh Kalimantan Barat yang pernah dibuang ke Digul oleh pemerintah kolonial Belanda. Tugu ini menjadi simbol perjuangan dan sejarah pergerakan di Kalimantan Barat.
Akhir perjalanan tiba di Sumur Bor, kawasan yang dahulu merupakan kebun percontohan (Proeftuin). Pada tahun 1934, di lokasi ini dibangun instalasi mesin uap produksi Ruston Proctor Company untuk mendukung pertanian modern pada masa kolonial.
Perjalanan menggunakan oplet ini menjadi pengingat bahwa sejarah Kota Pontianak tidak hanya tersimpan di museum, tetapi juga hidup di jalan-jalan, nama kawasan, dan ruang kota yang masih bisa kita temui hingga hari ini.
