Jejak Patok Langfang di Siantan: Warisan Kongsi Tionghoa hingga Lahirnya Weng Coffee

    Patok Langfang peninggalan kongsi Tionghoa di Siantan Pontianak

     


    Hari Minggu, 7 Desember 2025, tim JKJS semula merencanakan kegiatan susur sungai. Namun hujan yang turun sejak pagi memaksa perubahan rencana. Perjalanan dialihkan menjadi penelusuran darat, dimulai dari Patok Nol Kilometer Pontianak, berlanjut ke kawasan Siantan, dan berakhir di Weng Coffee.

    Perubahan rute tersebut justru membuka kesempatan untuk menelusuri jejak sejarah dan warisan budaya yang jarang disorot.

    Di Jalan Selat Bali, Siantan, terdapat sebuah penanda tua yang oleh masyarakat setempat dikenal sebagai Patok Langfang. Penanda ini dipercaya berasal dari sekitar tahun 1772 dan berkaitan erat dengan keberadaan Kongsi Langfang, salah satu kongsi Tionghoa paling berpengaruh di Kalimantan Barat pada abad ke-18.

    Patok ini didirikan sebelum rombongan penambang emas Tionghoa melanjutkan perjalanan menuju Mandor, yang kala itu menjadi pusat aktivitas kongsi. Berdasarkan cerita lisan warga, dahulu terdapat dua patok di lokasi tersebut. Namun satu di antaranya rusak akibat tertabrak kendaraan berat, sehingga kini hanya tersisa satu patok yang masih berdiri.

    Jejak sejarah Kongsi Langfang juga dapat ditemukan di wilayah Monterado dan Mandor. Di Monterado terdapat bekas tiang bendera yang dikaitkan dengan aktivitas kongsi, sementara di Mandor berdiri Taman Langfang sebagai taman memorial. Tempat ini menjadi saksi bisu perjalanan panjang migrasi, organisasi sosial, dan dinamika kehidupan komunitas Tionghoa di Kalimantan Barat.

    Sembari mencicipi Weng Coffee Pontianak



    Weng Coffee Siantan Pontianak warisan usaha kopi keluarga sejak 1970


    Perjalanan JKJS hari itu kemudian berlanjut ke Weng Coffee Siantan, sebuah tempat yang kini dikenal luas oleh pecinta kopi di Pontianak. Usaha kopi ini berakar sejak tahun 1970, ketika keluarga pendirinya mulai mengolah biji kopi secara tradisional. Pada tahun 2020, Weng Coffee hadir dalam bentuk kafe modern dan berkembang pesat hingga memiliki puluhan cabang.

    Nama “Weng” diambil dari nama sang kakek, sebagai simbol penghormatan terhadap nilai kerja keras, tradisi keluarga, dan konsistensi rasa. Di kawasan Siantan, Weng Coffee tidak hanya dikenal karena kualitas kopinya, tetapi juga karena kisah panjang yang menyertainya.

    Hujan yang membatalkan susur sungai justru mengantar pada perjalanan sejarah yang tak terduga. Dari Patok Nol Kilometer, Patok Langfang di Siantan, hingga secangkir kopi di Weng Coffee, setiap titik menyimpan potongan cerita tentang warisan budaya Tionghoa di Kalimantan Barat.

    Sejarah tidak selalu tersimpan di museum. Ia kadang hadir dalam bentuk patok tua di tepi jalan, taman memorial yang sunyi, atau aroma kopi yang diwariskan lintas generasi.



    Posting Komentar

    Lebih baru Lebih lama