Sejarah Parit Mayor Pontianak: Jejak Kapiten Kwee Hoe Toan dan Awal Permukiman

     

    Makam Kapiten Kwee Hoe Toan di kawasan Parit Mayor Pontianak sebagai bukti sejarah lokal


    Untuk kali ke sekian, JKJS kembali melakukan penjelajahan sejarah lokal di wilayah Pontianak dan sekitarnya. Perjalanan kali ini mengarah ke Parit Mayor, sebuah kawasan yang namanya begitu akrab di telinga warga Pontianak dan Kubu Raya, namun belum banyak dipahami asal-usul sejarahnya secara mendalam.

    Parit Mayor dan Sosok Mayor Kwee Hoe Toan

    Nama Parit Mayor tidak lahir secara kebetulan. Ia berasal dari nama seorang tokoh Tionghoa berpengaruh pada pertengahan abad ke-19, yaitu Mayor Kwee Hoe Toan. Berdasarkan catatan sejarah dan tradisi lisan yang berkembang di masyarakat, beliau menjabat sebagai Kapiten Tionghoa sejak tahun 1854, sebuah posisi strategis dalam struktur kepemimpinan komunitas Tionghoa pada masa pemerintahan Hindia Belanda.

    Jabatan Kapiten pada masa itu bukan sekadar gelar administratif, melainkan peran penting dalam mengatur kehidupan sosial, ekonomi, dan hubungan masyarakat Tionghoa dengan pemerintah kolonial.

    Makam Kapiten Kwee Hoe Toan di kawasan Parit Mayor Pontianak sebagai bukti sejarah lokal


    Awal Mula Terbentuknya Parit Mayor

    Pada tahun 1862, Mayor Kwee Hoe Toan diketahui berlabuh di wilayah Banjar Serasan. Namun, dalam perjalanannya, beliau justru tertarik pada sebuah kawasan di ujung Tanjung Raya. Wilayah tersebut dinilai memiliki potensi besar dari sisi geografis serta ketersediaan sumber daya alam.

    Di lokasi inilah Mayor Kwee Hoe Toan kemudian mendirikan sebuah parit, yang kelak menjadi cikal bakal kawasan Parit Mayor. Pada masa itu, parit memiliki peran yang sangat vital, bukan hanya sebagai saluran air, tetapi juga sebagai jalur transportasi, pengairan, serta penopang utama kehidupan masyarakat.

    Keputusan mendirikan parit mencerminkan kecermatan membaca kondisi alam serta visi jangka panjang dalam membangun sebuah permukiman yang berkelanjutan.

    Makam Mayor Kwee Hoe Toan sebagai Bukti Sejarah

    Jejak sejarah Parit Mayor diperkuat dengan keberadaan makam Mayor Kwee Hoe Toan yang masih dapat dijumpai hingga kini. Batu nisan makam tersebut bertuliskan aksara Tionghoa tradisional yang mencantumkan nama beliau, gelar Kapiten, serta tahun wafat pada masa pemerintahan Kaisar Tongzhi dari Dinasti Qing.

    Berdasarkan inskripsi tersebut, Mayor Kwee Hoe Toan diperkirakan wafat sekitar tahun 1863 Masehi. Makam ini menjadi bukti fisik yang menghubungkan cerita lisan masyarakat dengan data tertulis, sekaligus menegaskan bahwa Parit Mayor lahir dari peran tokoh nyata dalam sejarah lokal Pontianak.

    Jejak Keturunan dan Warisan yang Berlanjut

    Sejarah Parit Mayor tidak berhenti di masa lalu. Hingga hari ini, keturunan Mayor Kwee Hoe Toan masih dapat ditemukan di wilayah Pontianak dan sekitarnya. Salah satu penanda kesinambungan tersebut adalah keberadaan sebuah toko bangunan milik keturunan beliau yang berada di sekitar perbatasan Kota Pontianak dan Sungai Ambawang, Kabupaten Kubu Raya.

    Hal ini menunjukkan bahwa warisan sejarah tidak hanya hadir dalam bentuk situs dan cerita, tetapi juga melalui keberlanjutan keluarga dan aktivitas ekonomi masyarakat.

    Kolam Susu dengan air abadi


    Kolam Susu dan Sumber Kehidupan Parit Mayor

    Dalam penjelajahan ini, JKJS juga menyusuri rute dari kawasan permukiman menuju sebuah lokasi yang dikenal masyarakat dengan sebutan Kolam Susu. Tempat ini memiliki nilai penting karena merupakan sumber mata air alami yang tetap mengalir meskipun musim kemarau panjang melanda.

    Sejak dahulu, sumber air ini menjadi penopang kehidupan warga dan memperkuat alasan mengapa kawasan Parit Mayor dipilih sebagai tempat menetap. Ketersediaan air menjadi faktor utama dalam keberlangsungan sebuah permukiman.

    Parit Mayor dalam Ingatan Sejarah Pontianak

    Penjelajahan Parit Mayor bersama JKJS menjadi pengingat bahwa sejarah sering kali tersembunyi di balik nama-nama tempat yang sehari-hari diucapkan. Dari seorang Kapiten yang jatuh hati pada sebuah wilayah, lahirlah parit, permukiman, dan warisan yang terus hidup lintas generasi.

    Parit Mayor bukan sekadar kawasan geografis, melainkan ruang sejarah yang memperlihatkan bagaimana manusia, alam, dan keputusan masa lalu saling terhubung hingga membentuk kehidupan hari ini. Merawat ingatan sejarah ini berarti menjaga jati diri kota serta menghargai perjalanan panjang yang membentuk Pontianak.

    Posting Komentar

    Lebih baru Lebih lama