Sejarah Masjid Baitul Makmur Pontianak, Masjid Tertua di Tepian Sungai Kapuas




    Masjid Baitul Makmur Pontianak merupakan salah satu masjid tertua di Kota Pontianak yang memiliki nilai sejarah dan spiritual yang sangat tinggi. Masjid ini tidak hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga saksi perkembangan awal Islam dan Kesultanan Pontianak.

    Awal Berdirinya Surau Syekh Umar bin Ahmad Al Ba-Nashir

    Pada awal berdirinya Kesultanan Pontianak, bangunan ini merupakan tempat tinggal Syekh Umar bin Ahmad Al Ba-Nashir, seorang Qadi (hakim agama) yang dikenal memiliki keilmuan agama mendalam serta kewibawaan tinggi. Selain sebagai kediaman, tempat ini juga menjadi pusat pengajian dan pendidikan Islam.

    Seiring waktu, semakin banyak masyarakat yang datang untuk menuntut ilmu agama. Surau awal yang dikenal dengan nama Surau Batang Lontar atau Surau Batang Hari pun tidak lagi mampu menampung jamaah.

    Perkembangan Kawasan dan Wafatnya Syekh Umar

    Syekh Umar kemudian membangun tempat tinggal baru yang letaknya sedikit menjauh dari tepian Sungai Kapuas. Kawasan tersebut lambat laun berkembang menjadi sebuah perkampungan.

    Syekh Umar bin Ahmad Al Ba-Nashir wafat pada 19 Jumadil Akhir 1227 H / Oktober 1773 M, sebagaimana tercatat pada batu nisan berbentuk gada. Batu nisan tersebut pertama kali diketahui keberadaannya oleh tukang kayuh beliau, H. Abdul Rahim, dan kini tersimpan di Masjid Baitul Makmur. Makam beliau sendiri berada di Kompleks Pemakaman Raja-Raja Pontianak, Batu Layang.

    Surau Bansir dan Perubahan Menjadi Masjid

    Pengembangan surau dilanjutkan oleh putranya, Syaikh Ahmad bin Umar Ba-Nashir, yang kemudian dikenal oleh masyarakat sebagai Surau Bansir. Nama “Bansir” merupakan pelafalan lokal dari Ba-Nashir.

    Pada awalnya, surau ini digunakan untuk pengajian dan shalat lima waktu. Shalat Jumat masih dilaksanakan di Masjid Jami’ Sultan Abdurrahman. Namun, pada masa pendudukan Jepang, kondisi keamanan memaksa masyarakat setempat untuk menyelenggarakan shalat Jumat di Surau Kampung Bansir.

    Menjadi Masjid Baitul Makmur

    Sejarah mencatat, sejak Senin, 5 Mei 1941, Surau Kampung Bansir resmi berubah status menjadi masjid. Kemudian pada sekitar tahun 1968–1969, namanya diresmikan menjadi Masjid Baitul Makmur.

    Kini, Masjid Baitul Makmur dikenal sebagai masjid kedua tertua di Kota Pontianak, dengan luas sekitar 180 meter persegi, terletak di tepi Sungai Kapuas Kecil, tepatnya di Jalan Imam Bonjol, Gang Ramadhan, Bansir Laut, Pontianak Selatan.

    Arsitektur Masjid Baitul Makmur

    Masjid Baitul Makmur berbentuk panggung satu lantai, mencerminkan arsitektur Melayu tepian sungai. Atapnya awalnya menggunakan kayu sirap, namun sebagian kini telah diganti dengan genteng metal berwarna hijau karena keterbatasan bahan.

    Ukiran khas Melayu menghiasi kaki-kaki atap, dicat hijau, menambah kesan teduh dan religius. Dari dalam masjid, jamaah dapat langsung menyaksikan aktivitas Sungai Kapuas, memberikan nuansa yang khas dan menenangkan.

    Interior dan Fasilitas Masjid

    Lantai ruang utama ditutupi sajadah, dengan pilar dari kayu belian yang dilapisi keramik. Dinding interior juga menggunakan kayu belian, sementara plafon dicat kuning gading. Jendela besar berfungsi sebagai ventilasi alami agar ruangan tetap sejuk.

    Masjid ini memiliki dua pintu utama, mimbar khatib, rak mushaf Al-Qur’an, serta ruang penyimpanan perlengkapan masjid.

    Nilai Sejarah dan Pelestarian

    Sebagai bagian penting dari sejarah Islam di Pontianak, Masjid Baitul Makmur tidak hanya layak dijaga secara fisik, tetapi juga sejarah dan nilai spiritualnya. Keberadaan masjid ini menjadi pengingat akan perjuangan ulama dalam menyebarkan ilmu dan dakwah Islam di Kalimantan Barat.

    Dimuat di Borneo Tribune, Selasa, 20 November 2012

    Posting Komentar

    Lebih baru Lebih lama