Muhammad Yusuf Saigon al-Banjari (wafat 1 September 1942) merupakan seorang ulama sekaligus saudagar yang memiliki peran penting dalam sejarah Islam dan perkembangan kawasan Kampung Saigon, Pontianak, Kalimantan Barat. Beliau adalah keturunan dari Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari, ulama besar Kesultanan Banjar yang pengaruh keilmuannya tersebar luas di dunia Melayu.
Muhammad Yusuf Saigon adalah putra dari Muhammad Thasin al-Banjari, seorang ulama pengembara yang menyebarkan ajaran Islam ke berbagai wilayah, termasuk Brunei Darussalam dan Sabah, dengan fokus utama pada pengajaran ilmu tajwid. Dalam perjalanan dakwahnya, Muhammad Thasin kemudian menetap di Pontianak dan menikah dengan seorang perempuan bernama Fatimah. Dari pernikahan ini lahir tiga orang putra, yaitu Muhammad Yusuf, Muhammad Arsyad, dan Abdur Rahman.
Muhammad Yusuf dilahirkan di kawasan Banjar Serasan, sebuah permukiman di tepian Sungai Kapuas yang dikenal sebagai daerah tempat tinggal masyarakat Banjar di Pontianak. Sejak usia muda, beliau telah menunjukkan semangat merantau sebagaimana tradisi keluarga ulama Banjar pada masa itu.
Dalam masa perantauannya, Muhammad Yusuf Saigon menjelajahi berbagai wilayah di Nusantara hingga ke Malaysia, Brunei Darussalam, Singapura, Kamboja, dan Vietnam. Selain berdakwah, beliau juga dikenal sebagai pedagang intan dan berlian, sebuah usaha yang membawanya berinteraksi dengan berbagai komunitas Muslim di Asia Tenggara.
Saat berada di Vietnam, beliau menikah dengan Putri Sarijah binti Muhammad Sholehia, seorang perempuan keturunan bangsawan dari wilayah Vietnam Selatan. Dari pernikahan tersebut, Muhammad Yusuf dikaruniai empat orang anak, terdiri dari satu anak perempuan dan tiga anak laki-laki.
Setelah bertahun-tahun merantau, Muhammad Yusuf Saigon kembali ke Pontianak bersama istri dan anak-anaknya. Dalam kepulangannya, beliau membawa bibit-bibit karet, yang kemudian menjadi awal pengembangan perkebunan karet skala luas di kawasan yang kini dikenal sebagai Kampung Saigon. Hutan dibuka, lahan diolah, dan perkebunan karet tersebut berkembang pesat, menjadikan beliau sebagai salah satu saudagar karet terkemuka pada masanya.
Kawasan yang dibuka tersebut kemudian diberi nama Kampung Saigon, sebagai bentuk penghormatan dan kenangan terhadap asal-usul istrinya yang berasal dari Saigon, Vietnam Selatan. Sejak saat itu, nama Muhammad Yusuf al-Banjari pun dikenal luas sebagai Muhammad Yusuf Saigon, sebuah nama yang melekat hingga kini dalam sejarah Pontianak.
Muhammad Yusuf Saigon wafat pada Desember 1942 dalam usia sekitar 103 tahun. Makam beliau berada di areal pemakaman keluarga Haji Muhammad Yusuf Saigon, yang terletak di Jalan Yusuf Karim, Pontianak. Hingga kini, makam tersebut masih diziarahi dan menjadi bagian penting dari jejak sejarah Islam di kota ini.
Seiring perjalanan waktu, Kampung Saigon berkembang menjadi wilayah administratif yang kini dikenal sebagai Kelurahan Saigon, menandai keberlanjutan warisan sejarah, dakwah, dan perjuangan ekonomi yang dirintis oleh Muhammad Yusuf Saigon al-Banjari.
