Pada tanggal 20 Desember 2025, JKJS kembali melakukan penelusuran sejarah lokal di Kota Pontianak. Kali ini, perjalanan diarahkan ke makam Muhammad Yusuf Saigon yang berada di Kelurahan Saigon, Jalan Tanjung Raya II, sebuah kawasan yang menyimpan jejak penting sejarah ekonomi dan keislaman Pontianak.
Wilayah Saigon bukan sekadar permukiman biasa. Di kawasan inilah dahulu berdiri Borneo Rubber Work, sebuah usaha karet yang dirintis oleh Haji Taher. Keberadaan industri karet ini menjadi salah satu penggerak awal ekonomi masyarakat setempat pada masanya. Seiring perjalanan waktu, usaha tersebut kemudian diambil alih oleh Busri Rubber Work.
Nama Bu Sri yang terkait dengan kepemilikan usaha tersebut kemudian diabadikan oleh masyarakat menjadi nama sebuah gang di kawasan Jalan Imam Bonjol. Meski kepemilikan itu tidak berlangsung lama, jejak namanya tetap hidup dalam ingatan kolektif warga hingga kini.
Penelusuran JKJS berlanjut ke makam Haji Saigon bin Haji Tahsin. Di lokasi ini, masyarakat masih menjaga tradisi Sholawat Al-Banjari, sebuah amalan yang berkaitan erat dengan silsilah keilmuan beliau. Haji Tahsin diketahui merupakan cucu dari Syekh Al-Banjari, ulama besar yang memiliki pengaruh luas di dunia Islam Melayu.
Haji Tahsin dikenal sebagai pengajar ilmu tajwid, sementara ayah beliau pernah berdakwah hingga ke Brunei Darussalam. Tradisi keilmuan inilah yang menjadi fondasi kuat kehidupan religius masyarakat Saigon dari masa ke masa.
Nama Kampung Saigon sendiri tidak dapat dilepaskan dari sosok Muhammad Yusuf, seorang saudagar yang aktif berdagang hingga ke Saigon (Vietnam). Dalam perjalanan niaganya, beliau menikahi seorang perempuan keturunan Melayu asal Saigon bernama Aisyah. Aisyah merupakan kakak dari Abdul Karim, yang namanya kemudian diabadikan menjadi Jalan Abdul Karim di Pontianak.
Tak jauh dari kawasan tersebut berdiri Masjid Al Karim, yang namanya berasal dari Abdul Karim bin Haji Jamaludin. Abdul Karim menetap cukup lama di Pontianak sebelum akhirnya wafat di Singapura. Keberadaan masjid ini menjadi saksi perkembangan awal komunitas Muslim di kawasan Saigon.
Muhammad Yusuf wafat pada tahun 1942. Selain dikenal sebagai saudagar, beliau juga berperan dalam pengembangan usaha karet di kawasan ini. Di makam beliau, tradisi Sholawat Banjari masih terus dilaksanakan sebagai bentuk penghormatan dan kesinambungan spiritual.
Setelah lama merantau, Muhammad Yusuf kembali menetap di Pontianak pada usia 58 tahun. Jejak kehidupan beliau memperlihatkan bagaimana aktivitas perdagangan, dakwah, dan pembentukan kawasan saling berkaitan dalam membentuk wajah Kampung Saigon.
Pada masa lalu, Jalan Abdul Karim merupakan hamparan kebun karet yang menjadi bagian penting dari denyut ekonomi wilayah Saigon. Kini, kawasan tersebut telah berubah menjadi permukiman padat, namun lapisan sejarahnya tetap layak untuk dikenang dan dirawat.
Penelusuran ini menjadi pengingat bahwa nama tempat bukan sekadar penanda geografis, melainkan simpul sejarah yang merekam perjalanan manusia, perdagangan, dan nilai keislaman yang membentuk Kota Pontianak hingga hari ini.
.jpg)


